Pakan Ternak Sapi

Pakan Ternak Sapi 

FERMENTASE JERAMI

1. Selintas Tentang Jerami Padi


Yang dimaksud dengan jerami padi adalah bagian batang tumbuh yang setelah
dipanen bulir-bulir buah bersama atau tidak dengan tangkainya dikurangi dengan akar
dan bagian batang yang tertinggal setelah disabit.
Masalah utama pemanfaatan jerami sebagai pakan adalah tersebarnya sumber
jerami padi sehingga menyebabkan ongkos transportasi mahal. Masalah utama lainnya
adalah kualitas jerami padi yang rendah. Ikatan fisik dan ikatan kimia antara selulosa,
hemiselulosa, lignin dan silica (Ranjhan, 1977) serta rendahnya kecernaan (Djajanegara,
1983) merupakan hambatan utama bagi mikroorganisme rumen dalam memanfaatkan
serat kasar jerami padi. Usaha untuk mengatasi hal tersebut, perlu mempertimbangkan
suatu perlakuan dan pemberian pakan tambahan (suplemen) yang tepat. Komposisi dan
nilai gizi zat-zat makanan dari jerami padi dari bahan kering dapat dilihat pada Tabel 4
sebagai berikut :


Tabel 4. Komposisi dan Nilai Gizi Zat – Zat Makanan Jerami Padi Kering


Komposisi Gizi Nilai Komposisi Gizi Nilai
Protein kasar 3-5% , Energi 14,1-16,2%
Serat kasar 27-40%,  Calsium 0,11-0,58%
Abu 11-19% , Phospor 0.14-0.3%
Dry Matter (DM) 91%,  Selulosa 33%
DM Heni Selulosa 26%,  DM Ligium 7-13%
Silika 13% , DM Lemak 1,82%
BETN 40,38%


2. Metoda Peningkatan Kualitas Jerami Padi


Untuk meningkatkan nilai gizi jerami padi ini diperlukan input teknologi yang
sampai saat ini terus dikembangkan dan dikenalkan pada peternak. Ada beberapa cara
yang lazim digunakan dalam pengolahan limbah pertanian diantaranya melaui perlakuan
fisik, kimia dan biologi.

Peningkatan manfaat limbah pertanian dilakukan dengan peningkatan nilai
kecernaanya dan salah satu metoda yang dapat dilakukan untuk tujuan tersebut adalah
pengolahan secara biologis dengan memanfaatkan mikroorganisme (Astuti & Suharto,
1987).


Dalam bab ini diterangkan teknik fermentasi dan amoniasi yang dipilih
berdasarkan kesederhanaan alat yang dibutuhkan, kemudian kerja dan telah diuji dengan
menggunakan ternak

.
3. Fermentasi
Fermentasi yaitu proses perombakan dari struktur keras secara fisik, kimia dan
biologi sehingga bahan dari struktur yang komplek menjadi sederhana, sehingga daya
cerna ternak menjadi lebih efisien.


1) Bahan Utama Pembuatan Jerami
Pembuatan fermentasi jerami ini memanfaatkan penggunaan starbio dan urea.
(1) Starbio (Starter Mikroba) 


Merupakan hasil teknologi tinggi yang berisi koloni mikroba rumen sapi yang diisolasi dari alam untuk membantu penguraian struktur jaringan pakan yang sulit terurai. Adapun kolonikoloni mikroba tersebut terdiri dari mikroba yang bersifat proteolitik, lignolitik, selulolitik, lipolitik dan yang bersifat fiksasi nitrogen non simbiotik (Lembah Hijau Multifarm, 1999).
Untuk meningkatkan kualitas limbah pertanian, starbio mampu meningkatkan derajat fermentasi bahan organic terutama komponen serat sehingga serat sehingga menyediakan sumber energi yang ebih baik (Suharto et al. 1983). 

Adapun proses pembuatannya :
1. Seleksi tahap pertama
Klon-klon bakteri alam yang terpilih dari berbagai jenis dan fungsinya diisolasi dan dibiakan dalam media agar.
2. Seleksi tahap kedua
Bakteri yang terpilh dari seleksi awal diberi cekaman panas dan dingin yaitu pada suhu 900 C dan suhu minus 50 C selama 3 minggu.
3. Seleksi tahap ketiga
Bakteri yang terplih dari seleksi tahap kedua ini diberi cakaman pada basa dan asam yang ekstrem yaitu pada pH 9 dan pH 3,5. Penggunaan starbio pada pakan ternak akan menimbulkan karbohidrat, protein dan
lemak yang undigested pada feses akan lebih kecil sehingga lebih banyak energi yang dibebaskan dan dikonversi ke produksi serta sedikit energi yang hilang dalam bentuk gas methane.
Manfaat starbio :
1. lebih banyak zat nutrisi yang dapat diurai dan diserap (meningkatkan daya cerna pakan)
2. kotoran tidak berbau
3. dengan pakan yang sama akan dihasilkan produksi lebih banyak
4. kualitas produksi akan meningkat
5. dapat menurunkan FCR
6. dapat menurunkan crude protein samapi 2 % tanpa menurunkan produksi


(2) U r e a
Urea merupakan sumber NPN (Nitrogen bukan protein) mudah didapat dan relatif murah harganya, namun demikian pemberiannya tidak terlalu banyak karena dapat menimbulkan keracunan. Jadi dalam
pemberiannya kurang lebih 4 %. Urea digunakan sebagai pensuplai NH3 (amoniak), dimana NH3 ini digunakan sebagai sumber energi bagi mikroba dalam proses fermentasi – tidak sebagai penambah nutrisi pakan. Bisa juga diartikan sebagai katalisator dalam proses fermentasi. Disamping itu urea merupakan senyawa nitrogen yang sangat sederhana dan dapat diubah oleh mikro organisme rumen, sebagian atau seluruhnya menjadi protein. Dan dapat meningkatkan intake pakan.


2) Cara Membuat Fermentasi Jerami
(1) Bahan :
♦ Jerami padi (misal 1 ton jerami kering panen)
♦ Starbio 0,6% (6 kg)
♦ Urea 0,6% (6 kg)
♦ Air secukupnya (kelembaban 60%)
(2) Cara Membuatnya :
♦ Jerami ditumpuk 30 cm, kalau perlu diinjak-injak, lalu ditaburi urea, starbio dan kemudian disirami air secukupnya mencapai kelembaban 60%, dengan tanda-tanda jerami kita remas, apabila air tidak menetes tetapi tangan kita basah berarti kadar air mendekati 60%.
♦ tahapan pertamakita ulang sampai ketinggian tertentu (minimal 1,5 meter)
♦ Tumpukan jerami dibiarkan selama 21 hari (tidak perlu dibolak-balik)
♦ Setelah 21 hari tumpukan jerami dibongkar lalu diangin-anginkan atau dikeringkan
♦ jerami siap diberikan pada ternak atau kita stok dengan digulung, dibok dan disimpan dalam gudang.
Catatan : dalam membuat jerami fermentasi tidak perlu ditutup, apabila membuat fermentasi jerami dalam jumlah sedikit tumpukan jerami bisa ditutup dengan seresah atau karung goni.


Menurut Syamsu, 2001 Komposisi serat jerami padi tanpa fermentasi nyata lebih tinggi disbanding jerami padi yang di fermentasi dengan starbio. Penggunaan starbio mampu menurunkan kadar dinding sel (NDF) jerami padi. Hal ini memberikan indikasi bahwa selama berlangsungnya fermentasi terjadi pemutusan ikatan lignoselulosa dan hemiselulosa jerami padi. Mikroba lignolitik dalam starbio membantu perombakan
ikatan lignoselulosa sehingga selulosa dan lignin dapat terlepas dari ikatan tersebut oleh enzim lignase. Fenomena ini terlihat dengan menurunnya kandungan selulosa dan lignin jerami padi yang di fermentasi. Menurunnya kadar lignin menunjukkan selama fermentasi terjadi penguraian ikatan lignin dan hemiselulosa. Lignin merupakan benteng pelindung fisik yang menghambat daya cerna enzim terhadap jaringan tanaman (Komar, 1984 dalam Syamsu 2001) dan lignin berikatan erat dengan hemiselulosa (Doyle, Davendra & Pearce, 1986 dalam Syamsu, 2001). 

Kompiang, Tangendjaja & Iqbal, 1992 dalam Syamsu 2001 menyatakan dengan menurunnya kadar NDF menunjukkan telah terjadi pemecahan selulosa dinding sel sehingga pakan
akan menjadi lebih mudah dicerna oleh ternak.

 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar